![]() |
Ilustrasi Emoji Bahagia |
Penulis: Dr. Riem Malini Pane, M.Pd
Secara harfiah, kebahagiaan berasal dari kata bahagia; yaitu dengan menambahkan imbuhan “ke-an” yang umumnya berfungsi untuk membentuk kata sifat/keadaan (adjective). Apabila bahagia diartikan sebagai untung, gembira, puas dan senang maka kebahagiaan adalah keberuntungan, kegembiraan, kepuasan dan kesenangan. Hal ini sejalan dengan yang disebutkan oleh Rofi’udin (2013) bahwa kebahagiaan berarti perasaan bahagia, kesenangan dan ketenteraman, keberuntungan dan kemujuran yang bersifat lahir batin.
Dalam banyak literatur disebutkan bahwa cukup sulit untuk mengidentifikasi seseorang yang sedang bahagia, karena sejatinya kebahagiaan bersifat abstrak dan relatif. Disebut abstrak karena tidak dapat dideteksi dengan panca indera, sementara disebut relatif karena tidak memiliki standar baku yang dapat diterapkan kepada setiap individu. Oleh karena itu, definisi kebahagiaan lebih menitikberatkan pada aspek hedonik, kebermaknaan, dan keotentikan.
Lyubomirsky (2007) menyebutkan bahwa kebahagiaan dinilai berdasarkan kriteria-kriteria subjektif yang dimiliki individu. Menurut Seligman, kebahagiaan adalah sebuah konsep subjektif karena setiap individu memiliki tolak ukur dan faktor yang berbeda-beda dalam menentukan dan menemukan kebahagiaan. Hal senada disebutkan Diener seperti dikuti oleh Lopez & Snyder (2007). Hematnya, kebahagiaan diistilahkan sebagai subjective wellbeing atau kesejahteraan subjektif yang merupakan kombinasi aspek positif dan kepuasan hidup.
Sementara itu, menurut Argyle, Martin dan Lu, selain aspek positif dan kepuasan, kebahagiaan juga ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengendalikan dan atau menghilangkan emosi negatif seperti depresi atau kecemasan (Abdel Khalek, 2006). Artinya, kehidupan yang bahagia apabila seseorang individu mampu menghadirkan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, penghargaan terhadap apa yang dilalui dalam kehidupan serta mengontrol diri dari situasi tidak menyenangkan, yaitu dengan tidak menghabiskan energi pada hal-hal yang belum pasti.
Di sisi lain, kebahagiaan merupakan salah satu tujuan hidup yang paling diinginkan manusia. Hal ini seperti dituangkan Richards pada hasil penelitiannya yang berjudul Psychology and Personal Growth bahwa selain ingin menjadi kaya raya, bahagia merupakan harapan tertinggi yang diharapkan setiap individu. Kaya raya memiliki sumbangsih yang besar agar hidup terasa lebih bermakna, hanya saja memiliki banyak harta belum tentu merasa bahagia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa, meskipun memiliki banyak harta sebagai salah satu harapan tertinggi setiap individu, hanya saja fakta membuktikan bahwa memiliki harta yang berlimpah tidaklah jaminan kebahagiaan. Hal ini terbukti dengan beberapa kasus yang dikemukakan oleh Timothy Keller pada pertengahan 2008, dimana pada saat krisis ekonomi global melanda, ditemukan banyak kasus bunuh diri dari pada orang kaya, seperti kasus kepala eksekutif Sheldon Good yang menembak kepalanya sendiri.
Dalam teori psikologi, pada tahun 1998 Seligman mendirikan cabang ilmu baru yang dikenal dengan istilah Positive Psychology. Motivasi Seligman dalam merumuskan teori ini tidak lepas dari anggapan keliru para psikolog yang menilai ilmu psikologi hanya sebagai alat untuk menyembuhkan trauma dan penyakit-penyakit kejiwaan. Dalam upaya meluruskan inilah, presiden American Psychological Association merumuskan teori psikologi positif yang digunakan sebagai cara untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidup. Hal yang sama juga dilakukan oleh Frankl hingga munculnya sebuah pendekatan psikologi yang dikenal dengan istilah logoterapi sebagai salah satu bentuk psikoterapi untuk memaknai hidup yang lebih berkualitas. Pendekatan logoterapi telah disajikan oleh Frankl secara detail yang dituangkan dalam karya fenomenalnya dengan judul Man’s Search for Meaning.
Secara spesifik, Seligman menawarkan tiga cara untuk bahagia. Pertama, Have a Pleasant Life (Life of Enjoyment), yaitu memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin. Hal ini mungkin cara yang ditempuh oleh kaum hedonis tetapi pada takaran yang pas, cara ini bisa sangat membahagiakan.
Kedua, Have a Good Life (Life of Engagement), dalam bahasa Aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang positif hingga timbul perasaan flow (focused, concentrated). Merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, bahkan sampai tidak merasakan apapun, karena sangat menikmati kegiatan itu. Fenomena ini diteliti secara khusus oleh rekan Seligman, Mihaly.
Ketiga, Have A Meaningful Life (Life of Contribution), yaitu memiliki semangat melayani, berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain atau makhluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi atau gerakan tertentu. Merasa hidup memiliki makna yang lebih tinggi dan lebih abadi dibanding diri kita sendiri.
Tipikal orang-orang yang merasa bahagia telah diklasifikasikan oleh Myers (1994) dengan penjelasan bahwa orang yang bahagia adalah: (1) ketika memiliki harga diri yang tinggi dengan menunjukkan kemampuan mereka serta mempu mengekspresikan perasaan senang, (2) memiliki kendali diri yang ditunjukkan dengan prestasi yang baik dan memiliki coping (cara mengatasi) stres, (3) ketika bersikap optimis dan berpikiran positif, dan (4) ketika bersikap relatif terbuka dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam paparan Frankl disebutkan bahwa salah satu cara mewujudkan kebahagiaan itu dengan melupakan kebahagiaan itu dari pikiran sehingga kebahagiaan itu datang dengan sendirinya. Hematnya, kebahagiaan itu sama halnya dengan kesuksesan yang tak bisa dikejar. Artinya, seorang individu dapat mencapai kebahagiaan dengan tanpa menghiraukannya terlalu berlebihan. Dengan demikian individu yang sudah bahagia adalah ketika dia tidak mencari lagi kebahagiaan, karena kebahagiaan itu bukan ditemukan tapi dirasakan. Tipologi bahagia menurut Frankl ini terlihat dangkal dan aneh. Namun, sebenarnya Frankl ingin menunjukkan bahwa mengejar kesuksesan atau kebahagiaan itu tidak ada batasnya. Seseorang yang memiliki fokus hidup untuk mengejar target bahagia, di waktu yang sama individu akan mengabaikan aspek-aspek kehidupan yang jauh lebih penting. Pada akhirnya, apa yang dimiliki tidak dinikmati dan yang dipikirkan belum tentu terwujud. Oleh karena itu, Frankl mencari kebahagiaan dari penderitaan yang dialaminya.
Sebagian psikolog menyarankan agar kebahagiaan dapat diwujudkan dengan melakukan tiga strategi, yaitu reflect, refocus dan respond. Reflect adalah upaya meluangkan waktu untuk berhenti dari angan-angan panjang dan memfokuskan perhatiannya pada yang ada dan yang dirasakan. Fokus tahapan ini adalah dengan melakukan tinjauan kembali terhadap realitas kehidupan yang sedang dijalani. Kemudian, refocus yaitu dengan menentukan arah baru yang akan dilalui dan dilakukan berdasarkan apa yang diperhatikan dan dipelajari. Tahap selanjutnya dengan me-respond, yaitu melakukan aksi-aksi nyata yang dinilai dapat mewujudkan arah baru tersebut dengan bermodalkan pengalaman-pengalaman yang ada. Ketiga strategi ini merupakan tahapan yang saling terkait dan dapat dijadikan sebagai tahapan dalam mewujudkan kebahagiaan sesuai dengan perspektif psikologi.
0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda