Penulis: Alwi Fadli Trimala Tanjung, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana UIN Syahada Padangsidimpuan
Pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia untuk membangun peradaban tidak dapat dielakkan. Pendidikan merupakan kumpulan proses pengembangan kemampuan dan perilaku yang berbasis pengalaman. Tahapan yang tidak kalah pentingnya dalam pendidikan adalah pemahaman yaitu kemampuan menangkap makna dari sesuatu yang dipelajari. Di sisi lain, tujuan pendidikan adalah kesadaran belajar terhadap ilmu dan kesadaran untuk menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan.
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran individu tentang diri mereka sendiri, lingkungan sekitar, masalah sosial, etika, dan nilai-nilai. Dengan begitu, pendidikan membentuk individu peserta didik yang lebih sadar, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Oleh karena itu, mengetahui konsep kesadaran nilai, bila dikaitkan dengan pendidikan agama Islam sangat penting.
Apalagi era serba canggih saat ini, kemajuan teknologi yang dapat mempermudah semua urusan manusia, baik sosial maupun idividual. Namun, efek negatif yang dihasilkan oleh teknologi terhadap peserta didik juga sangat berbahaya. Adanya pengikisan terhadap moralitas remaja ditandai dengan meningkatnya kenakalan remaja.
Kesadaran merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, manusia, lingkungan, dan kebangsaan. Kesadaran dapat terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat. Pendidikan kesadaran mencakup pemahaman diri, pemahaman tentang hubungan dengan orang lain, dan pemahaman tentang bagaimana tindakan dan keputusan kita mempengaruhi dunia di sekitar kita. Ini fokus pada pengembangan keterampilan seperti empati, intropeksi, dan pemecahan masalah, kritis, dan kemampuan untuk membuat pilihan etis.
Untuk mewujudkan pendidikan berkesadaran tersebut dibutuhkan pengelelolaan yang tepat. Manajemen pendidikan berkesadaran sebagai model manajemen holistik. Pendidikan kesadaran dapat diterapkan dalam berbagai tingkatan dan konteks pendidikan, mulai dari pendidikan formal di sekolah hingga pendidikan informal di rumah dan masyarakat.
Selanjutnya, Muchlisin Riadi menjelaskan bahwa kesadaran diri merupakan kondisi saat seseorang memberikan respon yang sesuai terhadap lingkungan dan sekitarnya. Dia paham dan mengerti terhadap tempat dia berada, dimana ia tinggal, dan waktu saat itu. Dia memahami dirinya secara utuh, baik dari sifat, karakter, emosi, perasaan pikiran, bahkan cara beradaptasi dengan lingkungan. Kesadaran diri tersebut muncul dari diri seseorang, paham dan mengerti kondisi di sekitarnya.
Pendidikan kesadaran itu sangat penting. Pendidikan kesadaran adalah proses mengarahkan dan membimbing dengan berbagai upaya untuk menyadarkan peserta didik. Kondisi yang mendukung pelaksanaan pendidikan kesadaran itu di antaranya lingkungan dan stakeholder yang mendukung penuh terhadap pendidikan tersebut. Untuk menyadarkan peserta didik maka dibutuhkan aturan secara tertulis dan memberi sanksi untuk meningkatkan kesadaran peserta didik. Untuk itu pendidikan dalam membentuk kesadaran peserta didik harus didukung dengan aturan dan juga motivasi yang mengarah terhadap tujuan pendidikan tersebut.
Tak jarang kita lihat di lembaga pendidikan keagamaan misalnya pondok pesantren yang menerapkan penanaman ilmu agama, ibadah, dan karakter peserta didik. Namun, pendidikan keagamaan tidak didukung dengan manajemen pendidikan, dukungan lingkungan dan stakeholder yang ada di sekitar lembaga tersebut. Pendidikan yang hanya bertumpu pada pembiasaan, tentu tidak maksimal dan tidak membangun kesadaran peserta didik. Pendidikan kesadaran terhadap peserta didik tidak hanya dengan memberikan bimbingan dan aturan-aturan yang ada tetapi juga harus didukung dengan lingkungan sekitarnya juga yang dapat meningkatkan kesadarannya.
Intinya, tugas dan tanggung jawab pendidikan bukanlah tugas guru semata melainkan tugas dan tanggung jawab semua masyarakat yang mendambakan kebahagiaan bersama. Bukan hanya kurikulum dan lingkungan yang harus disinkronkan dalam menanamkan pendidikan tersebut namun seluruh stakeholder yang berkaitan dengan tujuan pendidikan itu sendri.
0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda