Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, yaitu dijadikan sebagai hamba-Nya dan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Ini adalah anugerah yang tidak ternilai karena Islam adalah jalan yang lurus yang membawa kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita mendapatkan banyak keistimewaan, di antaranya adalah syafaat beliau di hari kiamat, rahmat dan petunjuk dalam ajaran Islam, serta ibadah salat yang menjadi sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa ibadah, terutama salat, adalah bentuk kedekatan dengan Allah yang harus kita jaga dan laksanakan dengan penuh keikhlasan.
Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.
Salah satu Surah Al-Qur’an yang populer membicarakan peristiwa ini adalah QS. Al-Isra’: 1 sebagai berikut:
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Isra' Mi'raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, mencakup perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra') dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan teologis yang mendalam.
Isra' Mi'raj merupakan mukjizat yang melampaui hukum alam. Jika ditinjau dari sudut pandang sains, perjalanan dalam waktu singkat melampaui batas ruang dan waktu mungkin dianggap tidak masuk akal. Namun, mukjizat dalam Islam tidak terikat oleh hukum fisika karena terjadi atas kehendak Allah SWT.
Selain itu, Isra' Mi'raj memiliki makna filosofis yang dalam. Perjalanan ini menunjukkan kebesaran Allah dan kehormatan yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat. Banyak ulama sepakat bahwa peristiwa ini terjadi setelah masa-masa sulit yang dialami Nabi, seperti wafatnya Khadijah istri Nabi yang selalu mendukung dakwahnya dan Abu Thalib paman Nabi yang menjaga Nabi dari ancaman Bani Quraisy. Peristiwa tersebut tentu saja menunjukkan bahwa Isra' Mi'raj merupakan bentuk penghiburan dan penguatan spiritual bagi Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwahnya.
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Isra’ Mi’raj merupakan puncak makrifat tertinggi dalam perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, di mana beliau bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan sadar. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani yang mencerminkan kedekatan mutlak seorang hamba dengan Sang Khalik.
Dalam tradisi Islam, makrifat adalah tingkat tertinggi dalam pencarian hakikat ketuhanan. Melalui Mi’raj, Nabi Muhammad SAW mencapai titik kesadaran paling sempurna sebagai manusia yang berhadapan langsung dengan Allah SWT tanpa hijab. Ini menjadi bukti bahwa seorang hamba, melalui keimanan dan ketakwaan yang sempurna, dapat mencapai kedekatan spiritual yang luar biasa dengan Tuhannya.
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang agung di mana Nabi Muhammad SAW bercakap-cakap langsung dengan Allah SWT, sebagaimana tercermin dalam bacaan Tasyahud dalam salat. Dialog suci ini menandakan kedekatan spiritual tertinggi antara seorang hamba dan Sang Pencipta, yang menjadi puncak makrifat dalam perjalanan ruhani.
Dalam Mi’raj, Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha dan menerima perintah salat secara langsung dari Allah SWT tanpa perantara. Momen ini bukan sekadar wahyu biasa, tetapi sebuah percakapan yang mengandung kedekatan dan penghormatan tertinggi. Dalam Tasyahud, umat Islam mengucapkan, “Attahiyyatu lillahi wassalawatu wath-thayyibat. Assalamu 'alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh...” Ungkapan ini diyakini sebagai rekaman percakapan Nabi dengan Allah dan malaikat saat Mi’raj. Bacaan ini kemudian diajarkan kepada umat Islam sebagai bagian dari salat, yang merupakan hadiah langsung dari peristiwa suci tersebut.
Dari sudut pandang analitis, Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa komunikasi dengan Allah bukan sekadar konsep simbolis, tetapi suatu realitas yang bisa terjadi dalam dimensi spiritual tertinggi. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa salat bukan sekadar ritual, melainkan sarana untuk merasakan kedekatan langsung dengan Allah SWT.
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga pengalaman spiritual yang bisa dirasakan oleh setiap Muslim melalui salat. Dalam Islam, salat adalah bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW saat Mi’raj.
Ketika seorang Muslim berdiri dalam salat, ia berada dalam keadaan khusyuk, meninggalkan urusan dunia, dan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Dalam momen ini, jiwa seorang hamba naik menuju tingkatan spiritual yang lebih tinggi, seolah-olah ia sedang menjalani Mi’raj secara ruhani. Itulah sebabnya salat disebut sebagai "mi’rajnya orang beriman."
Selain itu, bacaan dalam salat, terutama Tasyahud, merupakan bagian dari percakapan yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT dalam perjalanan Mi’raj. Ini memperkuat makna bahwa salat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk mencapai kesadaran tertinggi dalam hubungan dengan Allah.
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW tidak hanya mengalami pertemuan langsung dengan Allah SWT, tetapi juga menyaksikan berbagai peristiwa yang menggambarkan kondisi dunia, umatnya, serta kehidupan setelah kematian. Pengalaman ini memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam tentang realitas kehidupan dan konsekuensi amal perbuatan.
Saat Isra’, Rasulullah diperlihatkan berbagai pemandangan yang mencerminkan keadaan umat manusia. Beliau melihat sekelompok orang yang terus-menerus memakan riba, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, bahwa mereka memiliki perut besar seperti rumah dan tidak mampu bergerak. Ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam tentang bahaya praktik riba dalam kehidupan ekonomi.
Dalam Mi’raj, Rasulullah juga melihat gambaran kehidupan setelah kematian, termasuk pahala bagi orang yang taat dan siksa bagi mereka yang durhaka. Beliau menyaksikan orang-orang yang mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia, seperti para pezina yang disiksa dan orang-orang yang enggan membayar zakat dalam keadaan mengenaskan.
Ma’asyiral Mukminin, Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Isra’ Mi’raj memberikan banyak hikmah yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan seorang Muslim. Beberapa hikmah utama dari peristiwa ini antara lain:
Meyakini Kemahakuasaan Allah
Peristiwa Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada batasan ruang dan waktu bagi-Nya. Allah selalu memanggil hamba-Nya untuk mendekat, terutama di sepertiga malam terakhir, agar mereka berdoa dan memohon, karena Dia akan mengabulkannya.
Kesedihan Tidak Selamanya
Nabi Muhammad SAW mengalami masa-masa sulit sebelum Isra’ Mi’raj, seperti wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Namun, Allah menghibur beliau dengan perjalanan ini. Ini mengajarkan bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6).
Hidup adalah Pilihan
Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya, sebagaimana firman-Nya: "Jika kamu berbuat baik, itu untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat buruk, itu juga kembali kepadamu." (QS. Al-Isra’: 7). Pilihan manusia menentukan akhir perjalanannya, apakah menuju surga atau neraka.
Akhirat adalah Kehidupan Sesungguhnya
Dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah melihat gambaran kehidupan setelah mati, baik surga maupun neraka. Ini menjadi pengingat bahwa dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama yang kekal.
Keistimewaan Salat
Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi tanpa perantara. Ini menunjukkan bahwa salat memiliki kedudukan tertinggi dalam Islam dan menjadi sarana utama seorang Muslim untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.
Akhir kata, momentum peringatan Isra’ Mi’raj adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri, terutama dalam hal keimanan dan kualitas ibadah kita, khususnya salat. Salat adalah oleh-oleh langsung dari perjalanan Mi’raj, yang menjadikannya ibadah paling istimewa dalam Islam. Melalui salat, kita memiliki kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, sebagaimana Nabi Muhammad SAW bercakap-cakap dengan-Nya saat Mi’raj. Oleh karena itu, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah salat kita sudah benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah? Apakah kita melaksanakannya dengan khusyuk dan penuh kesadaran?
Salat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi perjalanan spiritual yang mendekatkan kita kepada Allah. Dengan khusyuk, memahami makna setiap bacaan, serta meresapi kehadiran Allah dalam salat, kita dapat merasakan “Mi’raj” dalam kehidupan sehari-hari.
Mari jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas salat kita, memperbaiki keimanan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk hamba yang merasakan hakikat Isra’ Mi’raj dalam setiap sujud dan doa kita. Aamiin.
0 Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda