Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

.

Berdakwah Mesti Didukung Dengan Ucapan dan Perilaku Terbaik

KET: Foto hanyalah ilustrasi yang diambil dari tangkapan layar Google Image dari berbagai sumber.
 

Fenomena “Gus” di era sekarang sangat menarik untuk dicermati. Dahulu, gelar Gus memang identik dengan anak seorang kiai, khususnya di lingkungan pesantren dan komunitas Islam tradisional di Jawa. Namun, kini muncul sosok-sosok baru dengan panggilan serupa, meskipun latar belakang mereka belum tentu dari keturunan kiai. Popularitas mereka didorong oleh media sosial, penampilan yang menarik, serta kemampuan berbicara yang menginspirasi.

Dalam konteks dakwah, tentu hal ini bisa menjadi peluang besar untuk menarik lebih banyak anak muda kembali ke nilai-nilai Islam. Namun, ada juga kekhawatiran ketika sebagian dari mereka lebih mengedepankan hiburan dibandingkan esensi dakwah itu sendiri. Jika pengajian bercampur dengan hiburan yang kurang sesuai, seperti dangdutan atau DJ-an, tentu ini bisa menimbulkan pertanyaan mengenai keteladanan mereka.

Islam menekankan bahwa seorang pendakwah harus memiliki akhlak yang baik dan menjadi contoh bagi pengikutnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sangat besar kebencian (kemarahan) di sisi Allah bagi mereka yang mengatakan sesuatu namun mereka sendiri tidak mengerjakannya” (QS. As-Saff: 3). Maka, bagi mereka yang membawa gelar “Gus” atau memiliki pengaruh dalam dakwah, ada tanggung jawab moral untuk menjaga keistiqamahan dan tidak hanya sekadar mengejar popularitas.

Integrasi musik dalam dakwah bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak masa Wali Songo, musik dan seni telah digunakan sebagai media untuk menyebarkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga, misalnya, menggunakan tembang dan wayang untuk menyampaikan pesan-pesan tauhid. Di era modern, musik dakwah juga berkembang dengan hadirnya musisi seperti Rhoma Irama yang mengusung pesan-pesan Islami dalam lagu-lagunya.

Namun, mesti ada dan harus jelas batasan dalam penggunaannya. Musik dalam dakwah harus tetap dalam koridor syariat, tidak mengandung lirik yang bertentangan dengan ajaran Islam, serta tidak membuat manusia lalai dari kesadaran akan jati dirinya sebagai hamba Allah. Musik seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar hiburan yang menjadikan jiwa meronta-ronta tanpa arah.

Sayangnya, di beberapa fenomena dakwah modern, ada yang mencampurkan pengajian dengan musik yang lebih bersifat hiburan murni, seperti dangdutan dengan gaya yang kurang pantas atau bahkan DJ-an di tengah acara pengajian. Hal ini tentu menjadi ironi, karena tujuan utama dakwah adalah memberikan pencerahan, bukan sekadar menghibur.

Para kiai dan tokoh agama memang memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan dan menegur jika ada di antara mereka yang khilaf. Gelar seperti “kiai” atau “Gus” bukanlah jaminan kesucian seseorang, karena setiap manusia tetap memiliki potensi untuk salah. Justru, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula amanahnya untuk menjaga akhlak dan keteladanan.

Di era sekarang, umat Islam tidak seharusnya lagi taklid buta, menerima segala sesuatu hanya karena melihat sosoknya tanpa kritis terhadap ajaran yang disampaikan. Al-Qur'an sendiri telah menekankan pentingnya membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, sebagaimana dalam perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah: Iqra' !” (Bacalah!). Ini menunjukkan bahwa setiap Muslim harus memiliki kesadaran untuk mencari ilmu, memahami ajaran Islam dengan benar, dan tidak hanya mengikuti seseorang tanpa dasar yang jelas.

Akhirnya, kita patut merenungkan kembali peringatan dari Allah SWT ini, “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sementara kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

Demikianlah, semoga bermanfaat.

 

 

Penulis:
Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I
Dosen/Akademisi Dakwah pada UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

 

 

Posting Komentar

0 Komentar

HEADLINE ARTIKEL

Cara Mengirimkan Artikel Publikasi di Majalah Pendidikan dan Dakwah