Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

.

Penyikapan Yang Salah Berdampak Terhadap Sempitnya Pikiran


Penulis: Irwan Saleh Dalimunthe
Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

 

Kehidupan adalah perjalanan panjang manusia karena yang ditempuh setiap orang sangat jauh dan memakan waktu yang lama. Kehidupan itu dimulai dari proses kejadian dirinya, katakana saja sejak ia berproses dalam kandungan ibu. Ia berasal dari Nutfah, seperti gambaran dalam Q.S As-Sajadah: “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah (ayat 7). Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina -air mani (ayat 8). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan) Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, akan tetapi sedikit sekali kamu bersyukur (ayat 9). Dan mereka berkata; Apakah bila kami telah lenyap didalam tanah, kami benar-benar berada dalam ciptaan yang baru? Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhannya (ayat 10). Katakanlah Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu kamu akan dikembalikan (ayat 11).

Ayat ini memberi gambaran bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan dua dimensi yakni Jiwa dan Raga. Bahkan dalam berbagai kajian pada dunia Tasauf bahkan  manusia memiliki lebih dari  unsur jasad dan jiwa. Akan tetapi ada lagi  keberadaan yang lebih dalam dan rahasia (Qolb) serta sulit mengukurnya secara fisik. Pembahasan ini antara lain dikemukakan oleh Ibn Arabi sesuai ungkapan Karam Amin Abu Karam dalam bukunya “Hakikat Ibadah Menurut Ibnu ‘Arabi” (2020).  Menyebabkan manusia itu ada dalam kelas awam, khusus dan khowas al-khowas ketika dilihat dari sisi pengembangan diri. 

Dalam konteks pengembangan diri atau pemberdayaan potensi yang diberikan Allah seperti tadi dijelaskan dalam ayat di atas bahwa manusia ada unsur fisik, ada unsur jiwa dengan kebolehan bisa melihat, mendengar hingga lainnya dengan berpusat pada pemberian ruh. Bahkan ada “fuad” yang dalam dunia spiritual bisa jadi menempati posisi sentral dalam menentukan kualitas dalaman ---di bagian dalam-inner--- manusia yakni Qolb-Hati atau “mata yang memiliki cahaya, Al-Gazali menjelaskan potensi ini dalam karyanya “Pembebas dari Kesesatan”.    

Manusia adalah makhluk paripurna padanan dari mikrokosmik sebab seluruh anasir baik kekuatan bumi dan juga langit alias ketinggian ada dalam dirinya “ahsan al-taqwim”. Karena kehadirannya memikul tanggung jawab berat serta menantang. QS. Az-Zariat ayat 56 menjelaskan bahwa: “tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk Mengibadahi-Ku” bahasa lain dari penegasan dari menjadi sosok “tenaga kerja yang dipekerjakan Allah” baik dalam sifat makhdoh-ibadah ritual, juga ditambah dengan informasi QS. Al-Baqarah ayat 30. “Aku Ciptakan dia di Bumi ini sebagai Khalifah”, bermakna pekerja konteks perpanjang tanganan kekuasaan Allah untuk mengelola bumi dalam bentuk kontribusional konteks saling menguatkan sesama manusia serta kontributif menyempurnakan atau maksimalisasi diri sebagai pekerja alias karyawan Tuhan. Atau, aktor serta aktris melakoni pola laku dan tingkah sesuai kehendak Sang Sutradara Zat Yang Maha Agung.

Pekerjaan yang diemban itu berat dan amat berat tetapi dengan modal fasilitas baik bersifat fisik (potensi sumber daya diri juga alam) serta non-fisik atau jiwa hingga seperangkat petunjuk Tuhan menyebabkan manusia berkapasitas dan berkemungkinan mengembang amanah berat itu. Sedemikianlah alasannya sehingga kehidupan ini dipandang dari sudut ajaran Islam tentunya sebagai amanah. Hidup itu adalah amanah, dengan penuh masalah dari yang ringan hinga pelik, mulai materi hingga inmateri. Hidup adalah realitas masalah.

 

Hidup Adalah Medan Berkreasi dan Karya

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan itu adalah menghadapi sederetan masalah dan berpindah dari satu kepada masalah lain sehingga kehidupan itu sendiri mesti dimaknai sebagai medan perjuangan. Menyebabkan manusia dibekali dengan berbagai instrumen hidup agar bisa tetap eksis. Pada dasarnya perjalanan hidup itu harus ditempuh dengan keseriusan dengan memberdayakan seluruh potensi yang ada. Sehingga dalam posisi inilah menyebabkan adanya tuntutan agar manusia hidup dengan berkecerdasan. Yakni cerdas secara pemikiran, juga cerdas emosional hingga berkecerdasan secara spiritual.

Sebagaimana terdapat pada teorinya Danah Zohar dan Ian Marsall dalam buku “Spritual Inteligence: The Ultimed Inteligence (2000), mereka membagi kecerdasan  manusia ke dalam tiga kecerdasan yakni: 1). Kecerdasan Intelektual; berhubungan dengan kemampuan berpikir logis, analisis, dan pemecahan masalah. 2). Kecerdasan Emosional, yakni kemampuan mengenali, mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri serta memahami emosi orang lain, dan 3). Kecerdasan Spritual, yakni kecerdasan yang dapat memahami tentang makna hidup, tujuan hidup, memahami dan mengindahkan nilai moral hingga kemampuan untuk hidup bijaksana.

Dengan dimilikinya bekal seperti ini maka manusia akan memiliki kemampuan untuk menghadapi hidup secara normal. Sebab dengan kecerdasan intelektual manusia mampu mengembangkan pikiran logis sehingga dapat mengenali dan menguasai Ilmu Pengetahuan bahkan mewariskannya kepada generasi yang tumbuh di lintasan kehidupan mereka sehingga terdapat usaha pemberdayaan satu generasi ke generasi yang lain menyebabkan terjadi pewarisan pengetahuan secara massif dan spontan sehingga menjadi bekal bagi pelanjut berkembangnya peradaban manusia.

Keunikan lain manusia adalah adanya potensi emotif yakni ketersambungan rasa atau kesadaran atas pentingnya orang lain. Sehingga muncul potensi-potensi emotif seperti rasa suka, senang, empati, berteman akrab, bekerja sama dan menyatu dalam sebuah komunitas. Bahkan memiliki laku sebaliknya, sebab ada potensi yang bersifat destruktif yakni; tidak suka, benci, marah hingga berkonflik satu sama lain hingga melibatkan komunitas bahkan memunculkan perang.

Sisi lain dengan potensi spritualnya manusia dapat menyadari nilai, mencari makna hidup, rindu pada nilai moral bahkan keabadian serta terbuka peluang untuk kagum pada sosok sempurna di luar jangkauan akal rasional itu sendiri. Artinya manusia memiliki wadah untuk memahami kekuatan supra-rasional sehingga memiliki konsepsi tentang Tuhan, dengan potensi itu pula manusia berkehendak beragama. Sebab dengan beragama manusia menjadi lebih nyaman serta menemukan jalan dan media untuk berhubungan dengan Tuhan serta menyerap berbagai petunjuk hidup. Potensi spritualitas ini menjadikan manusia dapat menemukan ketenangan dan kebahagiaan hidup lewat petunjuk agama.

Menyatunya ketiga daya jiwa ini menjadikan manusia tampil dengan sangat spektakuler dengan kemunculan ide, gagasan kreatif serta penerapannya dalam kreasi bersifat inmaterial dan material dalam kehidupan nyata sehingga memunculkan peradaban. Sesungguhnya peradaban yang muncul adalah hasil maha karya manusia dengan berbagai pemaduan kemampuan yang dimiliki. Sepanjang sejarah perjalanan manusia peradaban itu makin kompleks sesuai perkembangan akal pikiraan manusia.

 

Perbedaan Manusia dari Segi Kematangan

Seperti penjelasan di atas bahwa kualitas serta keberadaan manusia itu ditentukan oleh kematangan dari tiga daya jiwa tersebut. Sehingga setiap orang dituntut supaya hidupnya cerdas secara intelektual, cerdas emosional dan cerdas secara spiritual. Intelektual berkaitan dengan penguasaan berbagai konsepsi, pengetahuan dan ilmu sebab ini modal penting. Juga harus punya mental yang tangguh sebab kehidupan itu adalah tantangan. Bahkan yang sangat pokok dalam hidup harus tangguh spritualitas.

Terkait dengan spritualitas, seperti diungkapkan di atas, yang pasti dapat berbeda bagi setiap orang. Tergantung pada yang mana menjadi keyakinan dia, yang mana yang menjadi rujukan nilai moralitas dan yang membangun pandangan hidupnya. Bahkan hingga terhadap makna budaya hidup yang ia ikuti serta pengalaman hidup yang ia jalani. Umumnya apalagi manusia yang hidup di belahan timur seperti kita di Indonesia spritualitasnya sangat didominasi agamanya. Lalu nilai agamalah yang menjadi rujukan moral dan nilai-nilai yang mewarnai jalan hidupnya. Seperti umat Islam misalnya, sudah sangat yakin bahwa Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW adalah Pedoman Hidup. Terbukti memang bahwa kebanyakan muslim yang ta’at akan merasakan kehidupan yang damai.

Tentu tidak semua muslim secara konsekwen berada pada posisi mental dan kesiapan spiritual seperti itu. Bukan tidak sedikit yang melenceng. Di antara mereka yang melenceng sehingga  menjadikan pikiran dan mental mereka sering kacau adalah mereka:

1) Tidak kokoh memperpegangi keyakinan bahwa dalam hidup ini ada otoritas Tuhan untuk menentukan jalan hidup dan keadaan kehidupan yang dijalani. Dalam Islam diyakini adanya Takdir Allah bagi setiap makhluk. Risiko pahit bagi orang yang berpandangan bahwa di tangan diri sendirilah secara 100 % yang menentukan keadaan kehidupannya, akan berisiko mereka akan bisa mudah patah hati, bahkan hidup dalam tekanan pikiran yang dahsyat hingga terjadi over tinking membuat dirinya selalu dalam keadaan tertekan dan stres. Padahal dalam hidup ini sesuai tuntunan nilai Islam, ada wilayah manusia yakni ikhtiar tapi lebih luas wilayah Tuhan bahkan ikhtiar manusia juga merupakan kemampuan yang dipinjamkan dari sang Otoritas, maka Tuhanlah Sang Penentu.

2) Risau dan gugup menghadapi masa datang. Mereka yang punya pikiran dan cara pandang seperti ini tidaklah sedikit. Mereka senantiasa resah dan cemas menyongsong  masa depan. Sehingga selalu saja galau dan pesimis. Hal ini terkait dengan keluasan dan keluwesan pandangan yang terkait dengan potensi spritualias.

3) Kurang rasa syukur. Sering kali manusia merasa dirinya sangat bernasib lain. Melihat posisi orang lain selalu memandang mereka berada dalam kesempurnaan. Mengakibatkan dirinya memiliki perasaan terasing atau bernasib lain tidak seperti yang lainnya. Jiwa seperti ini dapat membentuk perasaan rendah diri dan selalu menyepelekan diri sendiri. Mereka ini bagian dari barisan yang kurang muhasabah diri dan menutup diri untuk memiliki rasa syukur. Akibat lain orang seperti ini akan bisa mengganggu mentalnya hingga dapat depressi.

4) Tinggi hati atau bermental egois. Banyak manusia yang merasa diri sangat sempurna sebab merasa diri sangat istimewa, apalagi ia tergolong berhasil dan sukses dalam kehidupan mengakibatkan kian terpupuk rasa tinggi hatinya. Berpandangan bahwa hidupnya amat istimewa dan mesti mendapat perlakuan istimewa juga. Mereka ini sering terjebak kepada kurang adaptif dan dihormati dengan terpaksa atau banyak menghindar untuk berinteraksi dengan mereka.

5) Jiwa pendendam. Model manusia lainnya adalah mereka yang sangat mudah mendendam bila orang lain punya kesalahan, apalagi ia merasa disepelekan. Maka dalam masyarakat sering muncul keretakan bahkan muncul peristiwa kurang terhormat lalu terulang kembali, sebab dengan adanya pemeliharaan atau menternakkan jiwa yang sakit hati tentu akan beranak cucu sehingga terjadi saling dendam dan saling membalas.  

Perilaku seperti ini adalah tindakan penyimpangan yang berakibat fatal dalam kehidupan seorang muslim hingga berpengaruh ke dalam sistem kemasyarakatan muslim. Sebab menjadi sumber terbangunnya sikap yang amat tercela yang dapat melahirkan berbagai penyakit dan mala petaka sosial. Bahkan bagi orang yang melakoninya akan terbangun mental upnormal serta pikiran yang sangat sempit. Apalagi penyakit ini merasuki hidup seorang pemimpin pasti berpengaruh ke dalam pola kepemimpinannya. Terus pertanyaannya kemudian adalah: Bagaimana usaha agar keadaan ini tidak berlama-lama dan  teratasi dengan baik? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya (bersambung).

 

Sumber Bacaan

Al-Quran

Al-Gazali, “Pembebas dari Ke sesatan”, Jakarta Selatan, Turos (Terj), (2017).   

Danah Zohar dan Ian Marsall, “Spritual Inteligence: The Ultimed Inteligence, Bandung, Mizan (Terj),  (2000),

Karam Amin Abu Karam,  “Hakikat Ibadah Menurut Ibnu ‘Arabi” (2020). Jakarta, Alifia Books (Terj), (2017).   

Posting Komentar

0 Komentar

HEADLINE ARTIKEL

Cara Mengirimkan Artikel Publikasi di Majalah Pendidikan dan Dakwah